Semua Akan Indah Pada Waktunya
Hari ini, hari yang sangat
membahagiakan buat ku dan buat Shania. Ya, kami akan segera melaksanakan
resepsi pernikahan. Shania terlihat cantik, dengan gaun pengantin berwarna
putih. Mungkin kalian mengira, bahwa hubunganku dengan Shania tidak ada
rintangan dan lancar-lancar saja. Tapi kalian semua salah.
Nama aku Fauzi. Saat ini, aku duduk
di kelas 3 SMP. Aku adalah anggota OSIS di SMP ku. Aku mempunyai 4 sahabat, Yudha, Dadan, Cepi dan Rihan. Kami sering dipanggil 5 sekawan, karena kemana-mana
selalu berlima. Dari anggota 5 sekawan ini, hanya aku dan Fajar yang masih Jomblo.
Sisanya sudah memilik pacar. Yudha berpacaran dengan Melody, anak kelas 2 IPS, Dadan dengan Sonia, anak kelas 2 IPA, dan Cepi berpacaran dengan Frieska, anak
kelas 3 IPS. Setiap lihat mereka bertiga pacaran, aku dan Rihan selalu merasa
iri. Aku dan Fajar pun mulai giat mencari cewek untuk kami jadikan pacar.
"Han, enak ya tuh mereka, punya
pacar... Ada yang ngehibur kalau lagi sedih.... Sampai kapan kita mau jomblo
kayak gini terus....?" tanyaku ke Rihan.
"Iya nih Zi, enak gitu ya
punya pacar....." jawab Rihan.
"Eh iya Han, lu tau gak, si
Shania? Anak kelas 1 itu lho...." tanyaku ke Rihan.
"Tau... Yang katanya manis itu
kan? Lu naksir ya sama dia?" tanya rihan sambil senyam-senyum gak jelas.
"Iya nih.... Tapi, gue malu nih
ngomong sama dia.... Lu ada tips gak?" tanyaku ke Rihan.
"Lu ngapain tanya ke gua? tanya
ajah sama yang udah pacaran...." jawab Rihan.
"Oh iya ya..... Tumben banget
lu pinter....." kataku ngeledek.
Saat jam istirahat kedua, aku
menghampiri Yudha. Ia memang dikenal pintar mereyu perempuan. Tak heran jika
Frieska yang cantik itu bisa terpikat demgan Yudha yang sebenarnya gak
ganteng-ganteng banget.
"Yud, gue mau tanya nih sama
lu..." kataku ke Yudha.
"Tanya apaan?" kata Yudha.
"Jadi gini Yud... Gue suka sama
cewek anak kelas satu, gue mau kenalan, masalahnya gue malu Yud... Lu ada cara
gak biar gue sukses pdkt sama dia....?" tanyaku ke Yudha.
"Kasih tau dulu, siapa cewek
yang lu taksir itu, baru deh gue bantu...." kata Yudha.
"Iya dehhh.... Namanya Shania,
anak kelas satu...." jawabku pasrah.
"Ohh... Gampang sih, lu kan
Humoris tuh Zi, ya lu gunain deh kelebihan lu itu buat pdkt..." kata Yudha.
"Emang bisa Yud?" tanyaku
gak percaya.
"Gini Zi, cewek itu gak cuma
suka dirayu, cewek juga suka cowo yang humoris, karena bisa buat si cewek
terhibur..... Yah lu pura-pura nyapa kek, terus lu ceritain deh yang lucu-lucu
ke dia... Gue yakin, dia bakal suka sama lu...." jawab Yudha dengan mantap.
"Gilaaaaa..... Briliant banget
ide lu Yud... Emang dah, lu sang penakluk wanita..." kataku memuji Yudha.
"Lagi ngomongin apaan
sih?" tanya Frieska, yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana.
"Ini, si Fauzi suka sama anak
kelas satu, Shania namanya....." jawab Yudha.
"Tapi kalau kak Frieska mau
sama aku, aku rela kok..." kataku merayu Frieska.
"Gue yang gak rela....!!!"
kata Yudha manyun.
"Bercanda Yud...
hahahahahaha..." tawa gue ngeledek Yudha.
"Eh, gue punya nomor telpon dan
pin BB Shania... Mau gak?" tanya Frieska.
"Mau banget kak....."
jawab gue mantap.
Setelah dapat Saran dari Yudha plus
Pin BB dan nomor hp Shania dari Frieska, aku menuju ke kelas satu B. Aku tanya
ke anak-anak.
"Dek, Shania mana?" tanya
gue ke adik kelas.
"Tuhhh....." kata adek
kelasku sambil nunjuk Shania.
"Panggilin ya..." mintaku
ke adik kelas ku itu.
"Shannn... Shan...."
panggil adik kelasku.
"Apa?" tanya Shania
"Panggil kak Fauzi tuh...."
"Apaan kak?" tanya Shania.
Wajah nya cantik sekali saat itu.
"Anu, Shan.... Kamu nanti
pulang, naik apa?" tanya ku ke Shania
"Dijemput mama aku..."
jawab Shania.
"Bilangin, gak usah jemput,
biar aku yang nganter kamu pulang..." ajak ku agak malu-malu.
"Beneran kak....?" tanya
dia kaget.
"Iya udahhh... Biar kita bisa
temenan gitu....." jawabku.
"Ya udah dehh...." jawab
Shania.
Setelah itu, aku langsung cerita ke
sahabat-sahabatku kalau aku pulang bareng Shania nanti. Rihan juaga bercerita
bahwa ia sekarang pacaran sama Vanka, anak IPS.
Bel sekolah pun berbunyi... Aku
langsung menuju ke ruang kelas Shania.
"Jadi kak...?" tanya
Shania.
"Ya jadilahh.... yuk...."
ajakku.
Sampai kami di rumah Shania. Rumanya
cukup besar. Terdapat 3 mobil mewah di rumahnya. Sekilas aku melihat mama
Shania, menunggu kedatangan anaknya. Aku melihat Shania langsung disuruh masuk
oleh mamanya. Perasaanku jadi gak enak.
Esoknya di sekolah, Shania cerita ke
aku sambil menangis.
"Kak...." panggil Shania
sambil menangis.
"Lho??? Kamu kok nangis?
kenapa?" tanyaku yang heran melihat Shania menangis.
"Mama aku gak suka sama
kakak... Katanya aku gak boleh deket-deket kakak lagi.... Padahal, aku suka kak
sama kakak...." kata Shania.
"Kamu suka sama aku??"
tanyaku gak percaya.
"Iya kak, aku suka sama
kakak....."
"Anu, sebenernya, kakak juga
suka dik sama kamu...." jawab ku malu.
"Aku pingin pacaran sama kakak,
tapi mama aku..." Shania kembali menangis.
"Udah, udah.... Gini ajah,
gimana kalau kita backstreet ajah?" kataku ke Shania.
"Backstreet? Pacaran diam-diam
gitu?" tanya Shania.
"Iya... Kamu mau gak jadi pacar
aku...?" tanyaku.
"Mau kak... Jadi kita
backstreet ya?" kata Shania.
"Iya, kita coba jalanin ajah
hubungan kita...." kataku.
3 tahun sudah, kami berpacaran
secara diam-diam. Kampus Shania sama dengan kampus ku. Aku senang, karena bisa
bertemu Shania lagi. Sampai Shania berkata kepadaku,
"Kak, sampai kapan kita mau
kayak gini terus...?" tanya Shania.
"Iya ya... Gini ajah, kakak
akan datang ke rumah kamu buat silatuhrammi sama keluarga kamu" ajak ku.
"Kakak yakin? Kalau mama aku
gak nerima kakak gimana?" tanya Shania.
"Tenang Shan.... Aku yakin,
semua bakal indah pada waktunya" jawabku.
Malamnya, aku bersiap datang ke
rumah Shania. Dan yang diduga Shania benar. Aku ditolak oleh keluarga Shania.
Shania menangis. Aku diusir dari rumah Shania. Aku pulang dengan perasan campur
aduk.
Esoknya di kampus, aku kaget
mendengar kabar dari temanku, bahwa Shania pindah ke Singapur. Aku kaget. Aku
terpukul mendengar berita itu. Sepanjang pelajaran, aku benar-benar tidak bisa
konsentrasi.
Sejak malam itu, hubunganku dengan
Shania semakin renggang. Aku tidak tahu statusku dengan Shania apa sekarang.
Pacaran, atau putus? Dan aku juga tidak pernah dapat kabar lagi tentang Shania.
Sampai suatu hari, aku mendapat telpon dari Shania. Aku angkat telpon itu, dan
begitu kagetnya aku ketika yang berbicara kepadaku adalah ayah dari Shania.
"Halo..." kataku.
"Halo, apa benar ini nak Fauzi? Ini saya Ayahnya Shania..." jawab ayah Shania.
"Ehh... Iya om, benar ini saya
, Fauzi... Ada apa ya om?" tanyaku gugup.
"Begini nak Fauzi, bisa kamu
ke RSCM sekarang, ada yang om ingin sampaikan ke kamu...." ajak ayah
Shania.
"Oh... baik om, saya akan
berangkaat sekarang..." kataku menyanggupi ajakan ayah Shania.
Aku berangkat dengan motor Vario ku.
Angin saat itu sangat kencang. Perasaanku campur aduk, antara senang, atau
takut. Senang karena bisa bertemu Shania lagi, atau takut Shania kenapa-kenapa
karena mereka sekarang berada di RSCM. Akhirnya, aku sampai di RSCM dan bertemu
keluarga Shania, namun aku tidak melihat Shania.
"Om, Shania nya mana ya?"
tanya ku.
"Itulah mengapa om memanggilmu
ke sini nak... Shania mengalami gagal ginjal... Ia butuh pendonor ginjal... Apa
kamu mau mendonorkan separuh ginjalmu untuk Shania... Om dan sekeluarga janji,
akan merestui hubungan kalian..." kata Ayah Shania. Aku kaget setengah
mati dengan apa yang barusan ku dengar.
"Saya siap mendonorkan ginjal
saya om, jika itu demi keselamatan Shania...." kata ku menyanggupi
permintaan Ayah Shania.
"Terima kasih nak Fauzi...
Terima kasih..... Ayo ikut om..." kata Ayah Shania sambil memelukku.
Suara MC membuyarkan lamunanku.
Kulihat Shania yang sekarang ada didepan mataku. Orang tuaku dan Orang tua
Shania tersenyum. Aku memakaikan cincin ke jari manis Shania. Ku kecup
keningnya, dan kubisikan kepadanya,
"Lihatlah Shania, semua pasti
akan indah pada waktunya... I Love You..." bisikku ke Shania.
Shania hanya tersenyum melihatku,
dan kami berpelukan. "Aku janji Shan, aku akan rela melakukan apapun demi
kamu, aku akan selalu, mencintaimu..." kataku dalam hati. Suasana menjadi
sangat bahagia dan mengharukan. Dan kebahagian, tiba pada saat yang tak diduga.
...............................................................................................................................................................
Jika kamu mencintai seseorang, atau
menginginkan sesuatu, tapi gagal mendapatkannya, jangan menyerah. Jangan
menyerah. Jangan putus asa. Cobalah untuk mendapatkannya walau banyak rintangan
menghadang. Percayalah bahwa "semua akan indah pada waktunya...."
-TAMAT-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar